Home Hadits Lemah/ Palsu Ternyata Hadits Ini Palsu !

Ternyata Hadits Ini Palsu !

Makan Sebelum Lapar, Berhenti Sebelum Kenyang

381
0
SHARE
Ternyata Hadits Ini Palsu !

(f/Internet)

SahabatDakwah – Ada sebuah hadits yang sangat populer di tengah-tengah masyarakat, yang intinya adalah bahwa "Nabi shallallahu alaihi wassalam beserta para sahabatnya adalah suatu kaum yang tidak makan kecuali sebelum mereka lapar dan mereka akan berhenti makan sebelum kenyang."
Hadits ini saking terkenalnya, bahkan banyak para penceramahpun ikut-ikut menjadikan bahan dalam ceramahnya dan menisbatkan hadits tersebut kepada Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Walaupun ini sebenarnya lebih tepat disebut sebagai kata-kata bijak (kata-kata mutiara, red) daripada hadits yang dinisbatkan kepada Nabi shallallahu alaihi wassalam.
Karena setelah diteliti, tidak ada satupun satu haditspun yang diriwayatkan sanad yang bersambung yang seperti itu, walaupun makna dari hadits tersebut adalah benar.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata,

هذا المعنى صحيح لكن السند فيه ضعيف. [يراجع في زاد المعاد والبداية لابن كثير]. وهذا ينفع الإنسان إذا كان يأكل على جوع أو حاجة، وإذا أكل لا يسرف في الأكل ، ويشبع الشبع الزائد، أما الشبع الذي لا يضر فلا بأس به
“Maknanya benar, namun sanadnya dha’if, silakan merujuk ke kitab Zaadul Ma’ad dan Al Bidayah Wan Nihayah. Bermanfaat bagi seseorang jika makan ketika sudah sudah lapar atau sedang membutuhkan. Dan ketika makan, tidak boleh berlebihan sampai kekenyangan. Adapun kekenyangan yang tidak membahayakan, tidak mengapa”.

Sedangkan makna hadits yang menyatakan berhenti makan sebelum kenyang itu, menurut Dr. Syufyan Baswedan, M.A bertentangan dengan hadits yang menyatakan beberapa sahabat pernah makan sampai kekenyangan.
Rasulullah shallallahu alaihi wassalam ketika mengadakan walimah dengan Zainab binti Jahsy, Rasulullah menjamu sekitar 300 sahabat dengan roti dan daging sampai mereka kenyang. (Hadits dalam Shohih Muslim no: 1428)
Dalam hadits yang lain, dalam shohih Muslim juga; Dalam perang Khandak, Rasulullah shallallahi alaihi wassalam ketika itu dalam keadaan lapar diundang Jabir bin Abdillah, kata Jabir undanglah sebagian sahabat, tapi Nabi mengundang seluruh kaum Muhajirin dan Anshar dan mereka pun dating dan mereka makan hidangan sampai mereka kekenyangan.
Jadi dalam beberapa keadaan yang diceritkan hadits tersebut, Nabi bersama para sahabat memang pernah makan sampai kenyang, namun perlu digaris bawahi tidak sampai mubazir.

Namun ada satu hadits yang perlu dicermati dan diperhatikan tentang makan sampai kenyang ini;
Rasulullah shallallahi ‘alaihi wa sallam bersabda,

ما ملأ آدميٌّ وعاءً شرًّا من بطن، بحسب ابن آدم أكلات يُقمن صلبَه، فإن كان لا محالة، فثُلثٌ لطعامه، وثلثٌ لشرابه، وثلثٌ لنفَسِه
Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk dari perut. Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Namun jika ia harus (melebihinya), hendaknya sepertiga perutnya (diisi) untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernafas
(HR. Tirmidzi)

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan,

لان الشبع يثقل البدن، ويقسي القلب، ويزيل الفطنة، ويجلب النوم، ويضعف عن العبادة
“Karena kekenyangan membuat badan menjadi berat, hati menjadi keras, menghilangkan kecerdasan, membuat sering tidur dan lemah untuk beribadah”.

Jadi memang sebaiknya kita makan sebelum lapar, namun itu juga melihat kondisi kita, karena jika tidak ada yang bisa dimakan seperti yang dialami oleh Rasulullah shallallahu alaihi wassalam, dimana saking menahan lapar beliau sampai menahan perutnya dengan batu yang diikat, begitu juga dengan para sahabat yang juga sering kelaparan.
Begitu juga dengan makan sampai kenyang, begitu banyak keutamaannya, namun tidak boleh disebut itu hadits. Menisbatkan sesuatu yang tidak diucapkan Rasulullah shallallahi alaihi wassalam kepada beliau itu jelas kemungkaran.
Semoga kedepan kita bisa lebih paham dan tidak ikut-ikutan dalam menyebarkan hadits-hadits dhaif dan maudhu' tersebut.

#Sumber:
1. Kajian Ustadz Dr Sufyan Baswedan, M.A melalui WAG Dirosah Islamiyah
2. Tulisan dr Raehanul Bahrain di muslim.or.id