Home Kajian Rutin Kajian Rutin Tafsir As-Sadi (Surah Al-Mumtahanah) Bag: 5

Kajian Rutin Tafsir As-Sadi (Surah Al-Mumtahanah) Bag: 5

Oleh: Dr Aspri Rahmad Azai, M.A

117
0
SHARE
Kajian Rutin Tafsir As-Sadi (Surah Al-Mumtahanah)  Bag: 5

Foto: SahabatDakwah

Kajian rutin tafsir Syaikh As-Sa'di, (Surah Al-Mumtahanah, Bag-5)
Kamis 25 Sya'ban 1439 H / 10 Mei 2018.
Waktu: Ba'da Maghrib s/d selesai.
Bersama Ustadz Dr Aspri Rahmat Azai Lc, MA
حفظه الله تعلى.
Di Masjid Raudhatul Jannah
Ditranskip : Abu Albani

SahabatDakwah – Melanjutkan kajian rutin tafsir As-Sa'di Surah Al-Mumtahanah. Pada malam ini guru kita Al Ustadz Dr Aspri Rahmad Azai, M.A akan menjelaskan tafsir pada ayat ke 10 sampai 13, yang juga merupakan kajian terakhir untuk pembahasan tafsir Surah Al-Mutahanah.

Ayat : 10

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوٓا إِذَا جَآءَكُمُ الْمُؤْمِنٰتُ مُهٰجِرٰتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ ۖ اللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمٰنِهِنَّ ۖ فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنٰتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ ۖ لَا هُنَّ حِلٌّ لَّهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ ۖ وَءَاتُوهُمْ مَّآ أَنْفَقُوا ۚ وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ إِذَآ ءَاتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ ۚ وَلَا تُمْسِكُوا بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ وَسْئَلُوا مَآ أَنْفَقْتُمْ وَلْيَسْئَلُوا مَآ أَنْفَقُوا ۚ ذٰلِكُمْ حُكْمُ اللَّهِ ۖ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila perempuan-perempuan mukmin datang berhijrah kepadamu, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada orang-orang kafir (suami-suami mereka). Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tidak halal bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami) mereka mahar yang telah mereka berikan. Dan tidak ada dosa bagimu menikahi mereka apabila kamu bayarkan kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (pernikahan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta kembali mahar yang telah kamu berikan; dan (jika suaminya tetap kafir) biarkan mereka meminta kembali mahar yang telah mereka bayarkan (kepada mantan istrinya yang telah beriman). Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya di antara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana."
[QS. Al-Mumtahanah: Ayat 10]

Penjelasan dan tafsir ayat : 10
Allah Azza wa Jalla berfirman wahai orang-orang yang beriman apabila datang kepadamu perempuan-perempuan mukmin dalam keadaan hijrah atau berhijrah (hijrah di sini bisa diartikan pindah dari satu negeri ke negeri lain, pindah dari suatu tempat ke tempat yang lain karena agama atau mempertahan aqidahnya.
Namun hijrah yang populer ketika zaman Nabi shallahu 'alaihi wa sallam hijrah dari Makah ke Madinah. Padahal sebelum itu kegiatan hijrah sudah ada) kepada mu (Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam) maka perintah Allah Ta'ala kepada Nabi shalallahi 'alaihi wa sallam untuk menguji wanita atau perempuan yang hijrah atau mengaku beriman tadi.
Dan sesungguhnya Allah Ta'ala Maha Mengetahuinya apakah mereka beriman atau tidak. Maka jika kalian mengetahui mereka mukminan atau benar-benar beriman setelah diberikan ujian, maka Allah Ta'ala perintahkan pula agar jangan balikan atau kembalikan mereka kepada orang-orang kafir.
Maksudnya, ini berkaitan dengan salah satu butiran perjanjian Hudaibiyah yaitu "Jika ada orang Makah yang hijrah ke Madinah untuk beriman maka orang Madinah jangan menerimanya."
Namun ada pengecualian terkait keadaan ini. Maka Allah Ta'ala menegaskan atau berikan alasan bahwa tidaklah mereka (wanita yang hijrah tadi) halal lagi bagi suami-suami mereka yang ada di Makah yang masih kafir. Dan tidaklah mereka (suami-suaminya) tidak halal bagi mereka (wanita hijrah atau beriman tadi). Maka Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat diperintah pula oleh Allah Ta'ala mengembalikan mahar-mahar mereka kepada suami-suami wanita yang hijrah tadi.
Dan tidak mengapa atau tidak berdosa atas kalian (orang beriman di Madinah) untuk menikahi wanita-wanita ini jika kalian berikan kepada mereka itu mahar-maharnya.
Sedangkan bagi laki-laki yang beriman dan berhijrah ke Madinah kondisinya kebalikan dari wanita-wanita tadi. Dan janganlah kalian menahan ikatan pernikahan terhadap wanita-wanita kafir dan minta kepada mereka apa yang telah kalian berikan (mahar) atau harta yang telah dinafkahkan. Itu semuanya adalah ketetapan dan hukum dari Allah Ta'ala. Dan tidak dibiarkan atau dibenarkan untuk diganggu gugat.
Dan sesungguhnya Allah Ta'ala Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.

Ayat : 11

وَإِنْ فَاتَكُمْ شَىْءٌ مِّنْ أَزْوٰجِكُمْ إِلَى الْكُفَّارِ فَعَاقَبْتُمْ فَئَاتُوا الَّذِينَ ذَهَبَتْ أَزْوٰجُهُمْ مِّثْلَ مَآ أَنْفَقُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِىٓ أَنْتُمْ بِهِۦ مُؤْمِنُونَ
"Dan jika ada sesuatu (pengembalian mahar) yang belum kamu selesaikan dari istri-istrimu yang lari kepada orang-orang kafir, lalu kamu dapat mengalahkan mereka maka berikanlah (dari harta rampasan) kepada orang-orang yang istrinya lari itu sebanyak mahar yang telah mereka berikan. Dan bertakwalah kamu kepada Allah yang kepada-Nya kamu beriman."
[QS. Al-Mumtahanah: Ayat 11]

Penjelasan dan tafsir ayat : 11
Pada ayat ini dijelaskan dan jika luput dari kamu sesuatu dari istri-istri kamu dan tak sempat meminta apa yang telah kamu berikan lalu kamu berhasil mengalahkan mereka yang hijrah tadi (dalam peperangan) maka hasil rampasan perang lalu dikhususkan bagi suami yang istri murtad atau kembali kafir sementara si suami tidak mendapatkan mahar atau harta yang dibelanjakan maka diperintahkan kepada kaum mukminin (kepada Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat) yang menang dalam peperangan melawan orang-orang kafir sementara istrinya kembali murtad dan pihak keluarga isterinya tidak mau mengembalikan harta yang telah diberikan untuk mengganti harta itu sesuai dengan yang dibayarkan atau dikeluarkannya dulu.

Ayat : 12

يٰٓأَيُّهَا النَّبِىُّ إِذَا جَآءَكَ الْمُؤْمِنٰتُ يُبَايِعْنَكَ عَلٰىٓ أَنْ لَّا يُشْرِكْنَ بِاللَّهِ شَيْئًا وَلَا يَسْرِقْنَ وَلَا يَزْنِينَ وَلَا يَقْتُلْنَ أَوْلٰدَهُنَّ وَلَا يَأْتِينَ بِبُهْتٰنٍ يَفْتَرِينَهُ ۥ بَيْنَ أَيْدِيهِنَّ وَأَرْجُلِهِنَّ وَلَا يَعْصِينَكَ فِى مَعْرُوفٍ ۙ فَبَايِعْهُنَّ وَاسْتَغْفِرْ لَهُنَّ اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
"Wahai Nabi! Apabila perempuan-perempuan mukmin datang kepadamu untuk mengadakan bai'at (janji setia), bahwa mereka tidak akan menyekutukan sesuatu apa pun dengan Allah; tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka, dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."
[QS. Al-Mumtahanah: Ayat 12]

Penjelasan dan tafsir ayat : 12

 

Ayat : 13

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ قَدْ يَئِسُوا مِنَ الْءَاخِرَةِ كَمَا يَئِسَ الْكُفَّارُ مِنْ أَصْحٰبِ الْقُبُورِ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu jadikan orang-orang yang dimurkai Allah sebagai penolongmu, sungguh, mereka telah putus asa terhadap akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur juga berputus asa."
[QS. Al-Mumtahanah: Ayat 13]

Penjelasan dan tafsir ayat : 13
Ayat ini merupakan penutup surat yang isinya merupakan perintah Allah Ta'ala kepada orang-orang yang beriman berupa larangan seperti ayat pertama dari surat ini, yakni wahai orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah Ta'ala janganlah kalian berkasih sayang atau menjadikan sahabat karib atau teman dekat dalam segala urusan bahkan lebih mendukung dan ikut menyemarakan keyakinan mereka, terhadap suatu kaum yang Allah Ta'ala murka kepada kaum tersebut.
Dan larangan ini berlaku bagi seluruh orang-orang kafir. Sungguh mereka (orang-orang yang dimurkai tadi) berada dalam keputus-asaan terhadap akhirat karena mereka tidak beriman. Sebagaimana orang-orang kafir yang berputus asa di dalam kubur-kubur mereka.
Rasa keputus-asaan itu atas orang-orang kafir, mereka perlihatkan pengingkarannya terhadap hari akhirat atau hari berbangkit. Mereka mengingkarinya bahwa setelah kematian tidakkan ada lagi kebangkitan atau dibangkit. Sebagaimana dijelaskan dalam Qur'an pada Surat Al-Qiyamah ayat : 20 - 25

كَلَّا بَلْ تُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ
"Tidak! Bahkan kamu mencintai kehidupan dunia,
[ QS. Al-Qiyamah: Ayat 20]

وَتَذَرُونَ الْءَاخِرَةَ
"dan mengabaikan (kehidupan) akhirat."
[QS. Al-Qiyamah: Ayat 21]

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ
"Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri."
[ QS. Al-Qiyamah: Ayat 22]

إِلٰى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
"Memandang Tuhannya".
[ QS. Al-Qiyamah: Ayat 23]

وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ بَاسِرَةٌ
"Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram,"
[ QS. Al-Qiyamah: Ayat 24]

تَظُنُّ أَنْ يُفْعَلَ بِهَا فَاقِرَةٌ
"mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang sangat dahsyat."
[ QS. Al-Qiyamah: Ayat 25]

Maka berhati-hatilah kalian ketika memberikan rasa kecintaan, kepercayaan dam menjadikan teman setia terhadap orang yamg dibenci oleh Allah Ta'ala dan Rosul-Nya maka ancamannya adalah kalian tidak akan mendapatkan sedikitpun kebaikan di akhirat sebagaimana orang-orang kafir tersebut yang tidak akan mendapatkan sedikitpun kebaikan di akhirat.
Sama halnya orang-orang kafir yang mengalami keputus-asaan ketika masuk ke dalam alam kubur. Dan ketika itulah orang-orang kafir tadi baru yakin bahwa mereka tidak mendapatkan sedikitpun kebaikan bagi mereka di akhirat. Dan saat itu pulalah baru mereka percaya dengan menyaksikan sendiri dengan mata kepala mereka atau mereka baru percaya dengan ilmu yakin. Sebelumnya mereka berkeyakinan bahwa setelah mereka dimatikan sudah sampai di situ dan tidak mau atau tidak mungkin lagi dibangkitkan.

Alhamdulillah kajianpun selesai dan akan dilanjutkan kajian Tafsir As-Sa'di pasca lebaran. Semoga bermanfaat dan berfaedah