Home Kajian Rutin Kajian Rutin Tafsir As-Sadi (Surah Al-Mumtahanah) Bag: 4

Kajian Rutin Tafsir As-Sadi (Surah Al-Mumtahanah) Bag: 4

Oleh: Dr Aspri Rahmad Azai, M.A

177
0
SHARE
Kajian Rutin Tafsir As-Sadi (Surah Al-Mumtahanah)  Bag: 4

Foto: SahabatDakwah

Kajian rutin tafsir Syaikh As-Sa'di, (Surah Al-Mumtahanah, Bag-4)
Kamis 04 Sya'ban 1439 H / 19 April 2018.
Waktu: Ba'da Maghrib s/d selesai.
Bersama Ustadz Dr Aspri Rahmat Azai Lc, MA
حفظه الله تعلى.
Di Masjid Raudhatul Jannah
Ditranskip : Abu Albani

SahabatDakwah – Setelah sekitar 3 pekan kajian tertunda akibat beberapa uzur, malam ini Ustadz kita Dr Aspri Rahmad Azai hafizhahullah kembali melanjutkan memberikan pelajaran tafsir As-Sa'di Surah Al-Mumtahanah ayat 8 sampai 10

Ayat : 8

لَّا يَنْهٰىكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقٰتِلُوكُمْ فِى الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِّنْ دِيٰرِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوٓا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
"Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil."
[QS. Al-Mumtahanah: Ayat 8]

Pengertian dan tafsir ayat : 8
Pada ayat menjelaskan bahwa sebagai bentuk penegasan dari ayat-ayat sebelumnya terkait ketegasan agar tidak mencintai orang-orang kafir. Agar ada terlihat jelas perbedaannya. Jangan sampai tidak ada perbedaan apa-apa antara orang beriman dengan orang kafir. Sebagaimana telah dijelaskan pada ayat-ayat sebelumnya.
Dan perintah ini telah diterapkan oleh para sahabat-sahabat yang begitu tegas terhadap orang-orang kafir.
Meski demikian, ada juga di kalangan para sahabat yang dilema dalam penerapan ayat-ayat ini. Terlebih lagi bila harus bersifat tegas terhadap orang kafir itu kebetulan keluarga mereka. Khususnya orangtua mereka, paman-paman, bibi-bibi mereka dan karib kerabatnya.
Sebab, satu sisi ada larangan untuk tidak mencintai atau berteman dekat dengan orang-orang yang bermusuhan dengan Allah Ta'ala dan di sisi lain ada perintah untuk berbuat baik, berbakti dan berlaku adil terhadap kedua orangtua. Para sahabat tadi khawatir bila menerapkan ayat ini sepenuhnya maka nanti mereka melanggar perintah Allah Ta'ala yang lainnya. Yakni berbuat baik dan berbakti kepada kedua orangtua.

Pada ayat ke 8 inilah ditegaskan dan dijelaskan soal tersebut. Bahwa bagi para sahabat yang kebingungan dan khawatir melanggar larangan Allah Ta'ala maka turunlah ayat ini sebagai penghibur mereka. Bahwa Allah Ta'ala tak melarang melarang kalian untuk berbuat baik dan bersikap adil kepada orang kafir selama orang kafir tersebut tidak memerangi kalian (orang mukmin) dan tidak mengusir kalian dari negeri kalian sendiri.
Maka dibenarkan atau dipersilahkan untuk berbakti dan menjalin silaturahmi dengan keluarga atau karib-kerabatnya tadi meski mereka adalah orang kafir. Sebagaimana dijelaskan dalam Firman Allah Ta'ala
QS. Luqman ayat : 14-15

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada orang tuanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kalian kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku lah kalian kembali”
[QS. Luqman Ayat : 14]

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Dan jika keduanya memaksamu mempersekutukan sesuatu dengan Aku yang tidak ada pengetahuanmu tentang Aku maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya di dunia dengan cara yang baik dan ikuti jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku kemudian hanya kepada-Ku lah kembalimu maka Aku kabarkan kepadamu apa yang kamu kerjakan”
[QS. Luqman ayat : 15]

Ketegasan terhadap orang kafir ini dapat pula dilihat dari ketegasan salah seorang sahabat Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bernama Abdullah bin Abdullah bin Ubay ibnu Salul.
Abdullah bin Ubay bin Salul, ayahanda Abdullah adalah salah satu tokoh penting di kota Madinah saat itu. Bahkan sebelum Rasulullah shallahu’alaihi wassalam melakukan hijrah ke Madinah, Abdullah bin Ubay bin Salul ini adalah calon terkuat sebagai pemimpin kota Madinah saat itu. Jika Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Salul mendapat gelar sebagai seorang sahabat, karena keimanannya terhadap Rasulullah shallahu’alaihi wassalam dan terhadap ajaran yang dibawanya. Maka sang Ayah, Abdullah bin Ubay bin Salul justru mendapat julukan sebagai dedengkotnya kaum Munafik di Madinah.
Hampir semua fitnah terkait umat muslim yang terjadi di Madinah menampilkan sosok Abdullah bin Ubay bin Salul sebagai salah satu provokator utamanya.
Dikisahkan, karena saking geramnya, Umar bahkan meminta Rasulullah shallahu ‘alaihi wassalam untuk mengizinkan membunuh Abdullah bin Ubay bin Salul. Ketika mendengar kabar tersebut, Abdullah bin Abdullah bin Ubay segera datang untuk menemui Rasulullah shallahu ‘alaihi wassalam,
“Wahai Rasulullah, aku mendengar perintah untuk membunuh ayahku. Maka, perintahkanlah aku untuk itu dan akan ku bawa kepala ayahku dihadapanmu. Demi Allah, kaum Khazraj telah mengetahui bahwa mereka tidak memiliki orang yang lebih berbakti kepada orang tuanya lebih daripada diriku. Sesungguhnya aku takut jika orang lain yang melakukannya aku tidak bisa menahan diri membiarkan pembunuh ayahku bebas berkeliaran, lalu aku membunuhnya. Aku takut menjadi pembunuh orang beriman.”

Bahkan dalam syari'at Islam kita diperintahkan untuk berbuat baik kepada tetangga-tetangga meskipun tetangga itu tidak seaqidah dengan kita. Sebab, mereka yang berlainan aqidah sekalipun dengan kita, mereka memiliki hak yang cukup besar yakni hak bertetangga. Bahkan Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam senantiasa diingatkan oleh Malaikat Jibril agar senantiasa atau memperhatikan tetangga.

Ayat : 9

إِنَّمَا يَنْهٰىكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قٰتَلُوكُمْ فِى الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِّنْ دِيٰرِكُمْ وَظٰهَرُوا عَلٰىٓ إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولٰٓئِكَ هُمُ الظّٰلِمُونَ
"Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan mereka sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu dalam urusan agama dan mengusir kamu dari kampung halamanmu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, mereka itulah orang yang zalim."
[QS. Al-Mumtahanah: Ayat 9]

Penjelasan dan tafsir ayat : 9
Sesungguhnya Allah Ta'ala hanyalah melarang berbuat baik terhadap orang orang yang memerangi kamu karena agama dan mereka bersekongkol dan bersatu serta mendukung orang-orang yang ingin mengusir kamu dari negerimu.
Maka barang siapa yang berteman dan berbuat baik atau berkasih sayang dengan orang-orang demikian maka orang mukmin tadi termasuk ke dalam golongan orang yang dzalim. Dan Allah Ta'ala juga melarang berkumpul dalam satu lembaga dalam suatu wadah yang tidak ada bedanya di dalam perkumpulan itu antara orang mukmin dan kafir. Dan siapa yang tetap berkasih sayang dan berteman setia maka Allah Ta'ala tegaskan lagi bahwa mereka itu (orang mukmin) telah dzalim.
Kedzaliman itu berlaku umum artinya sesuai dengan kadar atau ukuran rasa kasih sayang mereka terhadap orang kafir. Kadar yang tertinggi adalah mengakui atau menganggap apa-apa yang dikerjakan orang-orang kafir tadi (terkait masalah agama atau ritual keagamaan) dianggap hal yang biasa saja (berlandaskan toleransi) bahkan saking cinta dan berkasihsayangnya sampai-sampai orang mukmin tadi malah ikut pula melakukan ritual keagamaan orang kafir tadi.
Ini tingkat kedzaliman yang paling tinggi dan ini menyebabkan seseorang mukmin tadi ke luar dari agama Islam. Sedangkan tingkatan lain masih banyak kebawahnya sesuai dengan kadar kecintaan dan rasa kasih sayang terhadap orang kafir tadi.

Ayat : 10

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوٓا إِذَا جَآءَكُمُ الْمُؤْمِنٰتُ مُهٰجِرٰتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ ۖ اللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمٰنِهِنَّ ۖ فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنٰتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ ۖ لَا هُنَّ حِلٌّ لَّهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ ۖ وَءَاتُوهُمْ مَّآ أَنْفَقُوا ۚ وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ إِذَآ ءَاتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ ۚ وَلَا تُمْسِكُوا بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ وَسْئَلُوا مَآ أَنْفَقْتُمْ وَلْيَسْئَلُوا مَآ أَنْفَقُوا ۚ ذٰلِكُمْ حُكْمُ اللَّهِ ۖ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila perempuan-perempuan mukmin datang berhijrah kepadamu, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada orang-orang kafir (suami-suami mereka). Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tidak halal bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami) mereka mahar yang telah mereka berikan. Dan tidak ada dosa bagimu menikahi mereka apabila kamu bayarkan kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (pernikahan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta kembali mahar yang telah kamu berikan; dan (jika suaminya tetap kafir) biarkan mereka meminta kembali mahar yang telah mereka bayarkan (kepada mantan istrinya yang telah beriman). Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya di antara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana."
[QS. Al-Mumtahanah: Ayat 10]

Penjelasan dan tafsir ayat : 10
Mukhadimah dan penyebab turunnya ayat ke-10 berawal pada peristiwa pada bulan Dzulko'dah tahun ke-6 Hijriyah Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bermimpi bahwa Beliau masuk ke dalam Masjidil Harram dalam keadaan tahalul (mencukur atau membotakkan rambutnya).
Mimpi ini diceritakan kepada sahabat-sahabatnya. Pada saat itu juga para sahabat khususnya dari kalangan muhajirin meminta Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam untuk melaksanakan umrah tahun itu juga.
Setelah 6 tahun pasca hijrah ke Madinah, para sahabat dari kalangan muhajirin sangat rindu akan kampung halaman mereka yakni Kota Makah.
Akhirnya Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam mengabulkan permintaan para sahabat tadi. Maka berangkatlah Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersama sahabat-sahabatnya dalam jumlah sangat besar. Sekitar 1.400 orang berangkat bersama Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam untuk melaksanakan umrah. Sampai di luar Kota Makah namun berita kedatangan mereka sudah sampai kepada kafir quraish, maka mereka mulai menghalang-halangi rombongan tadi agar tidak masuk ke Kota Makah untuk melaksanakan ibadah umrah.
Kejadian ini menjadi sebab keluarnya Perjanjian Hudaibiyah. Dimana butir-butir perjanjian ini pada dzahirnya sangat merugikan kaum Mukmin.
Diantara butiran perjanjian yang merugikan kaum Mukmin diantaranya: Siapa-siapa saja boleh masuk ke dalam kelompok mukmin.
Butiran lainnya adalah: para sahabat dan Nabi tidak boleh masuk Kota Makah cukup sampai dimana mereka berhenti yakni di dekat pintu mau masuk Kota Makah.
Butiran perjanjian lainnya adalah barang siapa dari pihak Makah yang meninggalkan Makah karena berpindah agama/memeluk Islam sementara keluarganya tidak mengizinkannya maka pihak Madinah tidak dibenarkan untuk menerimanya. Namun sebaliknya jika ada pihak Madinah yang datang dan masuk ke Makah maka pihak Makah dibenarkan menerimanya.
Kemudian butiran lainnya adalah gencatan sejata selama 10 tahun lamanya.
Butiran lainnya tidak dibenarkan Nabi Menyebut dan menulis kata "Bismillahirrahmanirrahim, khusus kata Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Dan tak mengakui Muhammad sebagai Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam.
Hal ini tegaskan oleh Suhail selaku negosiator dari Makah. Dan perjanjian itu ditandatangani oleh Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam. Sungguh luar biasa kejadian saat itu. Dan jelas para sahabat sangat kecewa terutama kaum muhajorin yang telah menempuh perjalanan ratusan kilo, rindu alan kampung halamannya sampai di kampung halamannya mereka tidak dibenarkan melaksanakan umrah tahun itu tapi tahun depan baru dibolehkan.
Dan Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam pun sangat kecewa. Dan Nabi perintahkan pada sahabat untuk tahalul. Meski tidak jadi umrah namun telah menggunakan ihram maka untuk membuka ihrom itu adalah tahalul.
Namun perintah itu tidak ada yang diikuti oleh para sahanat tadi. Hal ini tentu membuat Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersedih. Kemudian salah seorang isteri Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam menyarankan agar Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam dulu yang bertahalalul. Ketika Nabi shalallau 'alaihi wa sallam mencukur rambutnya sebagai tanda bertahalul maka seketika itu pula semua para sahabat tadi berebutan bertahalul.
Di sini pelajaran penting dari kisah tersebut, yakni kekuatan cinta dan ketaatan mengikuti perbuatan Nabi lebih kuat daripada mengikuti perintah Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam.
Demikianlah bentuk ketaatan dan patuhnya para sahabat kepada Rasulullah shallahu 'alaihi wa sallam. Mereka mentaati atas dasar cinta kepada Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam untuk kembali ke Madinah.
Pada dzahirnya perjanjian Hudaibiyah merugikan kaum Mukminin namun pada kenyataannya adalah menguntungkan kaum Mukminin sebagaimana dijelaskan Allah Ta'ala dalam Qur'an Al Fath.

 

Alhamdulillah kajianpun selesai. Semoga bermanfaat dan berfaedah