Home Kajian Rutin Kajian Rutin Tafsir As-Sadi (Surah Al-Mumtahanah) Bag: 3

Kajian Rutin Tafsir As-Sadi (Surah Al-Mumtahanah) Bag: 3

Oleh: Dr Aspri Rahmad Azai, M.A

107
0
SHARE
Kajian Rutin Tafsir As-Sadi (Surah Al-Mumtahanah)  Bag: 3

Foto: SahabatDakwah

Kajian rutin tafsir Syaikh As-Sa'di, (Surah Al-Mumtahanah, Bag-3)
Kamis 06 Rajab 1439 H / 22 Maret 2018.
Waktu: Ba'da Maghrib s/d selesai.
Bersama Ustadz Dr Aspri Rahmat Azai Lc, MA
حفظه الله تعلى.
Di Masjid Raudhatul Jannah
Ditranskip : Abu Albani

SahabatDakwah – Kajian rutin tafsir As-sa'di Surah Al-Mumtahanah sudah sampai ayat ke-4 dan pada kesempatan ini, Ustadz Dr Aspri Rahmad Azai, M.A hafizhahullah akan memberikan penjelasan dan tafsir untuk ayat 5, 6 dan 7.

Ayat : 5

رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَآ ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami, ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkau Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana."
[ QS. Al-Mumtahanah Ayat : 5]

Pengertian kata perkata dan tafsir ayat : 5
Pada ayat kelima ini menjelaskan pula tentang lanjutan do'a Nabi Ibrahim 'alaihiwasallam, "Yaa Rabbana ( رَبَّنَا ) [Rab = nama Allah Ta'ala yang artinya pencipta, pengatur, mengurus, dan pemilik] kami janganlah Engkau jadikan kami sebagai fitnah (cobaan/ujian) bagi orang-orang yang kafir dan ampunilah bagi kami atas kelalaian kami, Yaa Rab kami ( رَبَّنَا ) sesungguhnya Engkau dan benar-benar hanya Engkau (ada penekanan pada penyebutan إِنَّكَ أَنْت ) yang Maha Perkasa atau maka berkuasa ( الْعَزِيزُ ) dan Maha Bijaksana atau meletakkan sesuatu pada tempatnya ( الْحَكِيمُ )." Ini juga termasuk dalam adab-adab berdo'a yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim 'alaihiwasallam yakni berdo'a dengan pertama kali atau diawali dengan menyebut atau memanggil nama-nama Allah Ta'ala yang indah dan mulia.
Adab yang kedua, senantiasa memuji Allah Ta'ala dengan nama-namanya dan adab berikutnya menyebutkan nama Allah Ta'ala dalam penutup do'a atau mengakhiri do'a sesuai dengan tujuan permohonan yang kita minta kepada Allah Ta'ala.
Seperti akhir do'a Nabi Ibrahim 'alaihiwasallam bermohon agar terlindungi dari fitnah dan diperlihatkan kemenangan dengan keperkasaan Allah Ta'ala yang tidak ada satupun yang tak mungkin bisa dilakukan oleh Allah Ta'ala. Dan kemahaperkasaan Allah Ta'ala (Al-Hakiim) itu berjalan atau terjadi dengan penuh kebijaksanaan. Kemenangan yang pas pada waktu atau tepat pada saatnya.
Sebagaimana yang dialami kemenangan dan pertolongan Allah Ta'ala saat-saat genting yanga dialami Nabi Musa 'alaihiwasallam dan umat bani israil ketika mereka dikerja oleh balatentara fir'aun sampai membuatnya dan terjebak di tepi lautan. Maka pertolongan itu datang pas pada saatnya dimana Nabi Musa diperintah Allah Ta'ala memukul tongkatnya ke tepian laut tadi hingga lautan jadi terbelah dan membentang di hadapan mereka jalan bagaimana jalan tol tanpa ada setitik airpun di jalan tersebut.
Di sini pelajaran yang dapat diambil adalah diperlukannya ikhtiar yang sungguh-sungguh dalam mengharap pertolongan Allah Ta'ala dan bertawakkal. Dan sesungguhnya Allah Ta'ala Maha Mampu dan Perkasa, mestik tanpa Nabi Musa 'alaihiwasallam harus memukulkan tongkatnya, sunguh Allah Ta'ala dengan mudahnya membelah lautan tersebut.

Ayat : 6

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيهِمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْءَاخِرَ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِىُّ الْحَمِيدُ
"Sungguh, pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) terdapat suri teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari Kemudian, dan barang siapa berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Kaya, Maha Terpuji."
[QS. Al-Mumtahanah Ayat : 6]

Pengertian kata perkata dan tafsir ayat : 6
Pada ayat ini Allah Ta'ala mengulangi kembali dan penekanan sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya pada ayat 4, sungguh ada pada mereka (Ibrahim dan orang-orang yang beriman bersama) suritauladan ( أُسْوَةٌ ) yang sangat baik bagi mu dan keistiqomahan dan ketegasan terhadap orang-orang kafir akan kekufuran atau kemungkaran orang kafir bagimu (bagi orang-orang yang beriman) yaitu bagi orang-orang pahala atau balasan dari Allah Ta'ala pada hari kiamat nanti dan kembali Allah Ta'ala tegaskan kembali bagi mereka yang berpaling dari jalan Allah Ta'la ( وَمَنْ يَتَوَل ) dia akan tersesat dan sesungguhnya Allah Ta'ala Maha Kaya ( الْغَنِىُّ ) dan Maha Terpuji ( الْحَمِيدُ ).
Terkait mengambil suritauladan dari Nabi Ibrahim 'alaihiwasallam sangatlah sulit bagi orang-orang tidak ada iman padanya. Namun tidak demikian bagi orang-orang yang beriman dan mengharapkan balasan di akhirat dan pahala dari Allah Ta'ala maka akan membuat seseorang mudah untuk meniru akan ketegaran, keistiqomahan, kesabaran dan tawakkalnya Nabi Ibrahim 'alaihiwasallam menentang kekufuran.
Dengan keimanan itupulalah yang banyak akan nampak sedikit. Demikian pulalah yang dialami oleh sahabat yang mulia Abu Bakar radhiallahu'anhu dalam menginfaqkan semua hartanya di jalan Allah Ta'ala. Tampak sedikit dan mudah dan sedikit atau kecil di mata Abu Bakar atas apa yang diinfaqkannya itu karena semata-mata mengharapkan balasan dan pahala dari Allah Ta'ala di akhirat.
Diakhir ayat ini Allah Ta'ala menegaskan dan mengancam kepada orang-orang yang berpaling dari jalan Allah Ta'ala. Sebab, keberpalingan dan keingkaran tersebut sama sekali tidak akan berpengaruh atas kemuliaan, kekayaan, keperkasaannya Allah Ta'ala. Dan sesungguhnya Allah Ta'ala maha terpuji dari segala sisi baik dari sifat maupun nama-namanya.

Ayat : 7

عَسَى اللَّهُ أَنْ يَجْعَلَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ الَّذِينَ عَادَيْتُمْ مِّنْهُمْ مَّوَدَّةً ۚ وَاللَّهُ قَدِيرٌ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
"Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang di antara kamu dengan orang-orang yang pernah kamu musuhi di antara mereka. Allah Maha Kuasa. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."
[ QS. Al-Mumtahanah: Ayat 7]

Pengertian kata perkata dan tafsir ayat : 7
Pada ayat ini Allah Ta'ala menerakan mudah-mudahan Allah Ta'ala menjadikan diantara kami orang-orang yang kalian musuhi menimbulkan rasa kasih sayang. Sebab amat mudah bagi Allah Ta'ala merubah dan seseorang dari sekufur-kufurnya mejadi paling beriman kepada Allah Ta'ala. Karena itu pulalah jangan kita sesekali cepat-cepat memvonis seseorang jika sekarang kufur dan akan kufur selama-lamanya. Sebab, amat mudah bagi Allah Ta'ala merubahnya dan sesungguhnya Allah Ta'ala Maha Kuasa ( وَاللَّهُ قَدِيرٌ) atas segala sesuatu.
Sebagaimana kejadian yang dialami oleh sahabat yang mulia Umar bin Khattab radiyallahu'anhu ketika ke luar dari rumah sambil membawa pedangnya lalu menuju rumah Rasulullah. Jika dilihat sepintas, niat awalnya memang Umar bin Khattab ingin membunuh Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam namun sesampai di rumah Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam kejadiannya malah sebaliknya.
Allah Ta'ala melihatkan kuasa-Nya merubah kekufuran dan kebencian di hati Umar bin Khattab menjadi rasa cinta dan kasih sayang kepada Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam.
Dan sesunguhnya Allah Ta'ala Maha Pengampun dan Allah Ta'ala itu Maha Penyayang (
وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ ). Mengapa Allah Ta'ala menutup dengan kata وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ..? Karena sangat mudah bagi Allah Ta'ala mengampuni dosa-dosa seseorang. Artinya, tidak dosa yang banyak di Mata Allah Ta'ala tatkala berhadapan dengan Ampunan Allah Azza wa Jalla.

Alhamdulillah kajianpun selesai. Semoga bermanfaat dan berfaedah