Home Kajian Rutin Kajian Rutin Tafsir As-Sadi (Surah Al-Mumtahanah) Bag: 2

Kajian Rutin Tafsir As-Sadi (Surah Al-Mumtahanah) Bag: 2

Oleh: Dr Aspri Rahmad Azai, M.A

112
0
SHARE
Kajian Rutin Tafsir As-Sadi (Surah Al-Mumtahanah)  Bag: 2

Foto: SahabatDakwah

Kajian rutin tafsir Syaikh As-Sa'di, (Surah Al-Mumtahanah, Bag-2)
Kamis 28 Jumadil 'Awal 1439 H / 15 Maret 2018.
Waktu: Ba'da Maghrib s/d selesai.
Bersama Ustadz Dr Aspri Rahmat Azai Lc, MA
حفظه الله تعلى.
Di Masjid Raudhatul Jannah
Ditranskip : Abu Albani

SahabatDakwah – Pada malam ini Ustadz kita Dr Aspri Rahmad Azai, M.A hafizhahullah melanjutkan kajian tafsir As-Sa'di Surah Al Mumtahanah. Setelah pekan kemarin membahas ayat 1 sampai 3, kali beliau memberikan ilmu kepada kita pengertian dan tafsir ayat ke-4.

QS. Al-Mumtahanah Ayat : 4

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِىٓ إِبْرٰهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ ۥ ٓ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَءٰٓؤُا مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدٰوَةُ وَالْبَغْضَآءُ أَبَدًا حَتّٰى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ ۥ ٓ إِلَّا قَوْلَ إِبْرٰهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَآ أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَىْءٍ ۖ رَّبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
"Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya, ketika mereka berkata kepada kaumnya, "Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami mengingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu ada permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja," kecuali perkataan Ibrahim kepada ayahnya, "Sungguh, aku akan memohonkan ampunan bagimu, namun aku sama sekali tidak dapat menolak (siksaan) Allah terhadapmu." (Ibrahim berkata), "Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkau kami bertawakal dan hanya kepada Engkau kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali,"
[QS. Al-Mumtahanah: Ayat 4]

Pengertian dan tafsir ayat : 4
Pada ayat keempat ini Allah Ta'ala menekankan bahwa sungguh atau sesungguhnya adalah bagi kamu (ketika ayat ini turun adalah bagi para sahabat dan terus bagi semua umat Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam) suritauladan atau contoh atau panutan yang baik pada Nabi Ibrohim 'alaihiwasallam dan orang-orang yang bersamanya (umumnya ulama tafsir mengartikan orang-orang bersama Ibrohim 'alaihiwasallam adalah orang-orang yang beriman dengannya).

Lalu mengapa kita harus mengikuti ajaran atau agama Nabi ibrohim 'alaihiwasallam? Karena Allah ta'ala yang memerintahkannya demikian sebagaimana dijelaskan dalam Qur'an, yaitu :
QS. Ali 'Imran ayat : 95

قُلْ صَدَقَ اللَّهُ ۗ فَاتَّبِعُوا مِلَّةَ إِبْرٰهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
"Katakanlah (Muhammad), "Benarlah (segala yang difirmankan) Allah." Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan dia tidaklah termasuk orang musyrik."
[ QS. Ali 'Imran: Ayat 95]

Kemudian dalam Qur'an pada :
An-Nahl ayat : 123

ثُمَّ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرٰهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
"Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), "Ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan dia bukanlah termasuk orang musyrik."
[ QS. An-Nahl: Ayat 123]

Imam Atthobari menukilkan bahwa orang-orang di sini adalah para Nabi dan Rasul yang lain. Sebab, pada masa Nabi Ibrohim 'alaihiwasallam memang tidak banyak pengikutnya atau orang-orang yang beriman meski Nabi Ibrohim sangat gencar dan tekun berda'wah melawan kesyirikan. Kemudian dijelaskan dalam ayat ini suritauladan itu adalah ketika mereka berkata atau mengatakan kepada kaum mereka atau kaum Nabi Ibrohim atau kaum setiap para Nabi dan Rasul. Apa yang dikatakan?

Suritauladan yang pertama, Yaitu sesungguhnya kami kata Nabi Ibrohim dan para orang-orang beriman pengikutnya, berlepas diri atau tidak mau bersama dari kaumnya yang berada di atas kesyirikan, kekufuran dan menentang keberadaan Nabi Ibrohim 'alaihiwasallam.
Berlepas diri di sini maksudnya adalah mencakup seluruh urusan agama dan dari apa-apa yang semua kamu (kaum yang syirik) ibadati selain Allah Ta'ala.

Suritauladan kedua, Nabi Ibrahim 'alaihiwasallam mengatakan juga, Kami mengingkari dengan agama dan tata cara ibadah kamu. Dan tampak jelas atau nyata (tidak ada keraguan atau samar-samar padanya) antara kami dan antara kamu. Apa yang jelas tersebut, yaitu tampak jelas dan nyata permusuhan dan kebencian antara kita (Nabi Ibrohim 'alaihiwasallam dan pengikitnya) dan kamu (orang-orang kufur kepada Allah Ta'ala) dan itu untuk selama-lamanya hingga kalian beriman dengan Allah Ta'ala semata-mata. Inilah akhir dari kebencian dan permusuhan yang nyata tersebut. Inti pelajaran yang bisa dipetik dari suritauladan Nabi Ibrohim 'alaihiwasallam ini adalah tidak akan pernah bersama-sama antara ajaran tauhid dengan kesyirikan/kekufuran untuk selama-lamanya.

Suritauladan ketiga adalah, senantiasa bertawakal kepada Allah Ta'ala dalam segala hal dan senantiasa bertaubat kepada Allah Ta'ala. Sebagainana do'a yang senantiasakan dimohonkan Nabi Ibrohim 'alaihiwasallam kepada Allah Ta'ala : "Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkau kami bertawakal dan hanya kepada Engkau kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali."

Kemudian Allah Ta'ala mengecualikan salah satu suritauladan dari Nabi Ibrohim 'alaihiwasallam. Jangan pernah kalian ikuti ucapkan perkataan Nabi Ibrohim kepada ayahnya yakni azzar. Apa yang diucapkannya itu : "Niscaya saya benar-benar minta ampunan untukmu". Padahal sudah nyata permusuhan yang diberikan ayahnya kepada beliau namun dia tetap berbuat baik kepada ayahnya. Kemudian dijelaskan "Dan nanti saya yakin tidak akan mampu berbuat apa-apa atau menolong engkau ketika Allah Ta'ala memutuskan ketetapannya untukmu di akhirat nanti."

Larangan mendo'akan atau memintakan ampunan bagi orang-orang syirik tersebut bukan ketika masih hidup, sebab akan masih ada harapan baginya untuk bertaubat kepada Allah Ta'ala dan mendapatkan Hidayah dari Allah Ta'ala. Yang dilarang adalah ketika sudah jelas dan nyata kesyirikan dan tempatnya di Neraka. Ini maksudnya seseorang yang di akhir hayatnya mati berada dalam kesyirikan. Meskipun itu adalah keluarga kita sendiri. Sebagaimana yang dijelaskan Allah Ta'ala dalam firmannya :
QS. At-Taubah ayat : 113-114
Ayat : 113

مَا كَانَ لِلنَّبِىِّ وَالَّذِينَ ءَامَنُوٓا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوٓا أُولِى قُرْبٰى مِنۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحٰبُ الْجَحِيمِ
"Tidak pantas bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik sekalipun orang-orang itu kaum kerabat(nya) setelah jelas bagi mereka bahwa orang-orang musyrik itu penghuni Neraka Jahanam."
[QS. At-Taubah: Ayat 113]

Ayat : 114

وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرٰهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَنْ مَّوْعِدَةٍ وَعَدَهَآ إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ ۥ ٓ أَنَّهُ ۥ عَدُوٌّ لِّلَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ ۚ إِنَّ إِبْرٰهِيمَ لَأَوّٰهٌ حَلِيمٌ
"Adapun permohonan ampunan Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya. Maka ketika jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya adalah musuh Allah, Ibrahim berlepas diri darinya. Sungguh, Ibrahim itu seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun."
[QS. At-Taubah: Ayat 114]

 

Alhamdulillah kajianpun selesai. Semoga bermanfaat dan berfaedah