Home Hadits Lemah/ Palsu Hadits Palsu, Tidurnya Orang Puasa Ibadah

Hadits Palsu, Tidurnya Orang Puasa Ibadah

Oleh : Ustadz Dr. Sofyan Baswedan, M.A

545
0
SHARE
Hadits Palsu, Tidurnya Orang Puasa Ibadah

(foto Ilustrasi, Internet)

SahabatDakwah - Kita akan beralih ke hadits batil berikutnya, yakni hadits yang mengatakan 

نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ 

"Tidurnya orang puasa itu ibadah,"

Saya dulu waktu di SD pernah dikasih tahu seperti itu, "Udah tidur aja, ibadah, dari pada kamu nakal", ini juga hadist yang masih mending lah dibandingin yang awal itu made in Indonesia, kalau ini made in Arab. Masih ada lafalnya, masih ada sanatnya juga, cuman sanatnya nggak benar.

Imam As-Suyuthi mengatakan ini dhaif, hadistnya dhaif, padahal beliau ini sudah toleran banget dalam masalah menghukumi hadits, masih sering menshohihkan hadits-hadits dhaif, pun beliau masih mengatakan ini hadits dhaif, demikian juga di dhaifkan oleh Imam Al-Baihaqi, sebelumnya Imam As-Suyuthi kemudian oleh Imam Zainuddi Al-'Iraqi yang wafat pada tahun 806 H, juga oleh Imam Munawi, dan juga Syaikh Albani rahimahullah.

Adapun dari segi matan, ini nggak benar karena tidak semata-semata tidur itu akan menjadikan kita ini dianggap bernilai ibdah kecuali kalau tidurnya ada niat khusus, "saya tidur kenapa? untuk menghindari maksiat, misalnya", Tidur ketika puasa supaya saya bisa memulihkan tenaga saya untuk Shalat Tarawih nanti malam, untuk ngaji dan untuk beribadah-ibadah yang lain.

Dalilnya adalah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam shahihnya "Suatu ketika sahabat Muadz bersama dengan Abu Musa Al-Asy'ari, Sahabat Muadz radhiyallahu anhu bertanya kepada Abu Musa, "Ya Aba Musa, bagaimana sih kebiasaanmu membaca Al-Quran?", kata Abu Musa, "saya membaca al qur'an sambil berdiri, baca sambil duduk, baca sambil di atas kendaraan saya, pokoknya ada kesempatan saya baca, berkali-kali dalam satu hari".

Kemudian kata Muadz, "kalau saya malah tidur baru kemudian bangun, dan qiyamul lail", Abu Musa bertanya, "Ibadahnya dimana ente?" kemudian kata Muadz,"saya berharap pahala-pahala dari Allah dalam tidur saya sebagaimana saya berharap pahala dari Allah ketika saya qiyamul lail".

Jadi tidur ini dalam rangka memberikan hak kepada badannya untuk istirahat supaya semangat qiyamul lail nya,baru kalau ada niat begitu tidur ente bernilai ibadah, jadi gak mutlak benar dan gak mutlak salah tinggal niatnya apa.***

Semoga bermanfaat...

*Ditranskip dari WAG Dirosah Islamiyah
dengan logat dan bahasanya.