Home Hukum Islam Dosa Menukar Uang Baru Lebih Besar Dari Zina

Dosa Menukar Uang Baru Lebih Besar Dari Zina

Jika Nilainya Berkurang

1,626
0
SHARE
Dosa Menukar Uang Baru Lebih Besar Dari Zina

(f/Internet)

SahabatDakwah – Ada sebuah kebiasaan atau tradisi ketika hari lebaran di Indonesia, yaitu bagi-bagi uang baru kepada keluarga maupun anak-anak tetangga yang biasanya keliling dari rumah ke rumah.

Akibat dari tradisi ini, maka dibutuhkanlah banyak uang pecahan kecil, mulai dari pecahan 1000, 2000. 5000 ataupun 10000 rupiah. Dengan meningkatnya kebutuhan terhadap uang pecahan kecil yang 'baru' itu, sehingga ini menjadi peluang bisnis bagi sebagian orang.

Jamak kita lihat di pinggir-pinggir jalan sekitar 1 pekan sebelum lebaran, sudah banyak yang berjejer para pebisnis dadakan itu, dengan menawarkan jasa penukaran uang. Biasanya dalam 100.000 rupiah mereka akan mengambil sekitar 5000 rupiah, jadi jika kita menukar uang 100.000 rupiah dengan uang pecahan 2000 atau 5000, maka kita Cuma akan mendapatkan 95.000 rupiah.

Hal ini merupakan sesuatu yang terlarang dalam islam, bukan karena jasa penukaran itu, tetapi uang merupakan salah satu dari 6 jenis 'barang ribawi', yaitu barang yang apabila ditukar harus dengan nilai dan takaran yang sama.

Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,"Jika emas dibarter dengan emas, perak ditukar dengan perak, gandum bur (gandum halus) ditukar dengan gandum bur, gandum syair (kasar) ditukar dengan gandum syair, korma ditukar dengan korma, garam dibarter dengan garam, maka takarannya harus sama dan tunai. Jika benda yang dibarterkan berbeda maka takarannya boleh sesuka hati kalian asalkan tunai." (HR. Muslim 4147).

Uang itu disamakan dengan emas dan perak, karena merupakan alat tukar. Jadi jika hal tersebut diatas tidak terpenuhi, nilai dan takaran yang ditukar tidak sama, maka hal tersebut sudah termasuk dalam riba.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali” (HR. Ahmad dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih mengatakan bahwa hadits ini shahih).

 

Pemberi Jasa, Penukar dan Saksi Semua Berdosa

Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anha pernah mengatakan,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba, yang memberi makan riba, yang menulis transaksi, dan dua saksi transaksi riba. Beliau mengatakan, “Mereka semua sama.” (HR. Muslim 4177, Abu Daud 3335 dan yang lainnya).

Jadi jika anda menukar uang di pinggir jalan atau menggunakan jasa-jasa penukar uang itu, anda dipastikan akan ikut menikmati dosanya, bahkan jika anda membawa istri dan anak anda yang ikut menyaksikan, juga akan ikut terdampak dosanya. Begitulah besarnya ancaman terhadap riba dan para pelakunya, Allah Subhannahu wa Ta'ala menjadikan ini sebagai 'extraordinary crime', sehingga para pelakunya diancam akan diperangi langsung oleh Allah dan rasul-Nya dan bahkan akan kekal dalam neraka.

Jadi bagaimana caranya supaya anda tidak terlibat riba, namun bisa mendapatkan uang pecahan kecil, berikut tips-tips dari SahabatDakwah:

  1. Tukarkan uang pada gerai-gerai resmi bank. Biasanya Bank Indonesia membuka layanan penukaran uang ini hampir di seluruh kota di Indonesia. Anda tinggal mencari tau jadwal dan lokasinya.
  2. Jika anda ada kenalan pegawai bank, mungkin anda juga bisa meminta tolong melalui dia.
  3. Minta tolong kepada seseorang untuk menukarkan uang dan berikan upahnya. Jadi jika anda akan menukarkan uang sebanyak 100.000 rupiah, maka anda harus mendapatkan uang pecahan kecilnya dengan nilai yang sama, yaitu 100.000 rupiah, namun anda mengeluarkan upah bagi yang anda minta tolong pergi menukarkan, nilai upahnya tergantung perjanjian anda dengan orang yang diupah.

Namun ingat, upah dalam hal ini harus flat (sama banyak), anda menukar uang 100.000, atau 200.000 atau 1.000.000 rupiah, upahnya harus sama, tidak tergantung berapa banyak atau persentase.

Wallahu 'alam