Home Sejarah Abu Tholhah, Kisah Kepatuhan dan Kesungguhan Dalam Menjalankan Perintah Allah Subhanahu wa Ta-ala

Abu Tholhah, Kisah Kepatuhan dan Kesungguhan Dalam Menjalankan Perintah Allah Subhanahu wa Ta-ala

175
0
SHARE
Abu Tholhah, Kisah Kepatuhan dan Kesungguhan Dalam Menjalankan Perintah Allah Subhanahu wa Ta-ala

(foto Ilustrasi, Internet)

SahabatDakwah – Para sahabat Rasulillah shallallahu alaihi wassalam merupakan manusia-manusia yang memiliki keimanan yang hebat. Diantaranya adalah seorang anshor yang bernama Abu Tholhah, yang memiliki kepatuhan dan kesungguhan dalam menjalankan perintah-perintah yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Al Quran.
Abu Tholhah yang memiliki nama asli Zaid bin Sahl pernah suatu ketika, dia sedang melaksanakan sholat di kebunnya.
Tiba-tiba saja melintas seekor burung cantik yang tersesat diantara rerimbunan daun di kebunnya, matanya mengikuti gerakan burung tersebut sehingga ia jadi lupa dengan jumlah raka'at sholatnya.
Kejadian ini membuat dirinya menjadi sedih dan menyesal, sehingga dia menemui Rasulullah shallallahu alaihi wassalam;
“Wahai Utusan Allah, baru saja aku tertimpa musibah karena hartaku, karena itu sekarang kebunku akan kuserahkan untuk Allah. Silahkan engkau pergunakan sesuai keinginanmu Wahai Rasulullah.”
Karena merasa hartanya (kebun itu) sudah menjadi penghalang bagi dirinya dengan Allah Azza wa Jalla, maka ditinggalkannya kebun tersebut.
Pada kisah yang lain, Abu Tholhah yang memiliki banyak kebun di Kota Madinah, yang salah satunya adalah kebun terbaik yang pernah dimilikinya terletak tidak jauh dari masjid Nabawi. Di dalamnya terdapat air telaga yang sangat menyejukkan. Tak jarang Rasulullah shallallahi alaihi wassalam sering bersilaturrahim pada Abu Tholhah di kebunnya.
Kebun ini dikenal dengan nama ‘Birha’. Sewaktu turun ayat Al Qur’an Surat Ali Imran ayat 92,
“Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebaktian (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.”
Abu Tholhah tanpa menunggu waktu, segera bergegas menemui Nabi Muhammad shallallahu alaihi wassalam, dan berkata, “Wahai Rasulullah, saya sangat mencintai Birha, Namun karena Allah telah memerintahkan untuk menafkahkan harta yang paling dicintai di jalanNya, maka saya pasrahkah Birha ini untuk dibelanjakan di jalan Allah, sebagaimana yang dikehendaki-Nya”
“Inilah salah satu pemberian yang mulia di sisi Allah,” Jawab Rasulullah shallallahu alaihi wassalam dengan penuh gembira, “Akan tetapi menurutku, Kebun itu akan lebih bermanfaat jika engkau bagikan pada kerabatmu sendiri”
Abu Tholhah pun menerima nasehat mulia Nabi Muhammad shallallahu alaihi wassalam tersebut dan membagikan kebun tersebut pada kerabat dan saudaranya yang tidak mampu.
Begitulah gambaran kepatuhan dan kesungguhan Abu Tholhah dalam menjalankan semua perintah-perintah Allah Ta'ala yang diturunkan melalui Rasulillah shallallahu alaihi wassalam.

Di masa tuanya pada masa kekhalifahan Sayyidina Utsman bin Affan, Sewaktu ia sedang membaca Surat At Taubah, di ayat yang ke 31, dimana Allah berfirman,
“Berangkatlah kamu (untuk berjihad), baik dalam keadaan merasa ringan ataupun berat,”
Tiba-tiba saja ia tersentak kaget dan merenung sejenak, kemudian ia berkata kepada anak-anaknya, “Wahai anakku, persiapkan bekalku, persiapkanlah bekalku!”
Anaknya dan beberapa orang yang hadir mencoba menghalau keinginan Abu Tholhah tersebut, mereka berkata, “Semoga Allah memberikan rahmat padamu, engkau telah sering berjihad bersama Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bersama Sayyidina Abu Bakar dan juga Sayyidina Umar hingga mereka semua wafat di jalan Allah, biarkan kami saja yang berjuang dan engkau tinggal di sini.”
“Tidak,”
tegas Abu Tholhah, “Persiapkan bekalku sekarang!”
Keluarga dan para kerabatnya pun tak bisa menahan keinginannya untuk berjihad, mereka mempersiapkan perbekalan. Ia pun akhirnya ikut berjuang bersama pasukan yang berperang menyeberangi samudera.
Di dalam salah satu pelayarannya, ketika di tengah lautan lepas, Abu Tholhah meninggal dunia. Selama tujuh hari tidak ditemukan pulau untuk menguburkannya, namun jasadnya tidak berubah sedikitpun. Masyaallah.. Begitulah akhir kehidupan yang khusnul khotimah.

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah ini.. Amiin Ya Rabbal’alamiin

 

# Diambil dari berbagai sumber